setiap anak di masa pertumbuhannya diperkenalkan dengan begitu banyak cerita dongeng...begitu pula saya...dongeng yang umumnya diawali dengan kebahagiaan, kemudian terganggu nasib malang atau ulah tokoh antagonis, menjalani masa penuh duka dan tangis, lalu berakhir kembali dengan kebahagiaan..
salah satunya dongeng cinderella
demikian kuat dan abadinya dongeng ini sehingga rasa-rasanya tidak ada satu pun orang yang tidak mengenalnya
dongeng yang satu ini dibukukan, difilmkan, ditayangkan jutaan kali dan disaksikan milyaran manusia, dan diceritakan berulang-ulang..
dari malam ke malam..dari satu generasi ke generasi berikutnya..demikian kuat hingga rasa-rasanya setiap perempuan pasti pernah memimpikan bertemu dengan seorang pangeran tampan, baik hati, dan kaya raya, jatuh cinta, menikah, dan hidup bahagia selamanya
saya termasuk di antara sekian banyak wanita pemimpi itu..
ketika mulai puber yang saya inginkan adalah bertemu dengan seorang pria sesuai kriteria idaman saya, saling jatuh cinta, menjalin kasih, dan menikah...dengan demikian, saya hanya akan jatuh cinta satu kali seumur hidup dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama cinta saya satu2nya itu
kenyataannya...saya beberapa kali patah hati...pernah juga dikhianati...tidak direstui orangtua...dan tidak sejalan yang sebenarnya buah dari ketidakyakinan atas perasaan yang ada...
perlahan gambaran pangeran tampan yang baik hati mulai memudar..tergantikan oleh sosok tidak mengenakkan yang membuat hati gundah dan kesal...gambaran hidup bahagia selamanya mulai terpinggirkan oleh fakta kecekcokan, perang mulut, ketidaksetiaan, dan akhir pahit perceraian.
Ulasan di majalah2 wanita modern mengatakan, dongeng hanya memperlihatkan akhir bahagia di
pelaminan..tidak pernah membeberkan kehidupan dan cobaan yang berat di pernikahan...dan tidak pernah mengatakan kalau cinderella dan pangeran bisa berakhir bercerai dan saling membenci satu sama lain...apakah ini sebuah cara pembentukan opini bahwa lembaga pernikahan tidak lagi dapat dipercaya keutuhannya?
entahlah...
yang saya tahu, saya jelas2 bukan cinderella...saya tidak yatim piatu dan tidak tinggal bersama tante dan sepupu2 yang berhati jahat
saya bukan upik abu yang dari subuh hingga malam banting tulang mengerjakan pekerjaan rumah tangga...saya anak kantoran..masuk jam 7 pulang jam 5
sebelumnya saya sekolah bertahun2..yang saya tidak tahu apakah upik abu pernah jalani...rumah saya pakai pembantu yang rela menyumbangkan tenaganya demi membiayai keluarga di kampung...saya tidak naik kereta kuda yang disulap dari buah labu...saya menyetir mobil sendiri dengan kecepatan tinggi di jalan tol...saya tidak punya peri yang baik hati...tapi saya punya orangtua, adik2, dan sahabat2 yang selalu ada di saat bahagia dan
sedih..yang selalu memberi dukungan moril ketika di titik terendah...saya tidak secantik cinderella dan tidak punya sepatu kaca...
dan saya tidak jatuh cinta pada seorang pangeran...
bukan pula pada ksatria bertopeng...saya jatuh cinta pada seorang pria biasa...
tapi ia luar biasa...
mengapa?
karena ia bisa membuat saya kembali mencintai
karena ia membuat saya rela membuka hati
dan karena ia sanggup membuat saya kembali ke nilai yang hakiki...
bahwa keberpasangan adalah fitrah
bahwa cinta adalah anugrah
bahwa menikah adalah ibadah
saya tidak tahu apakah cinta saya akan abadi selamanya
saya tidak tahu apakah cintanya akan abadi selamanya
saya tidak tahu apakah ia akan selalu setia
saya tidak tahu apakah kami akan hidup bahagia
saya tidak tahu...tidak juga dia...cuma Allah yang tahu...
tapi hidup adalah pilihan dan setiap pilihan mengandung konsekuensi...
saya memilih dia karena hati saya meyakinkan demikian
karena itu saya akan menjalani ke mana hidup akan membawa saya
karena di setiap pilihan ada resiko
ada kebahagiaan dan ada kesedihan
semuanya bersatu membawa makna dalam kehidupan
tak ada ragu tak ada bimbang
hanya cinta dan niat yang tulus di hati
biarlah akhirnya nanti menjadi rahasia Sang Pencipta Alam
karena saya merasa amat sangat beruntung
masih dapat hidup hari ini dan mencintai sang pilihan hati...
belajar dari kematian
kematian...menutup satu pintu dan membuka pintu yang lain...membuat sederetan peristiwa menjadi kenangan untuk mengisi lembaran-lembaran dengan cerita yang baru peralihan dari dunia yang maya ke yang hakiki sesuatu yang ditangisi namun terkadang juga dianggap sebagai jalan yang terbaik
sebuah momen pembelajaran
hari ini tetangga dekat rumah saya meninggal pak suaib namanya mendadak sekali...tadi pagi pun dia masih ada...malam ini ketika sampai rumah menjelang jam 7, saya diberitahu dia telah pergi...
pak suaib mungkin bukan siapa-siapa...sebagai tetangga saya pun tidak terlalu mengenalnya karena jarang bertemu, jarang pula bertukar cerita percakapan antara saya dan pak suaib selama hidupnya lebih bisa disebut sebagai percakapan basa-basi antar tetangga
namun malam ini, rasanya sedih sekali ketika tahu dia sudah tidak ada membuat saya mengingat2 kapan terakhir kali saya melihatnya...apakah beberapa hari lalu, ataukah ketika hari raya bbrp waktu lalu...saya tidak ingat...akibat percakapan di antara kami ya selalu percakapan basa-basi antar tetangga...
ketika orangnya sudah tidak ada barulah saya mulai berpikir...apa pak suaib selama ini sakit...meninggalnya mendadak sekali...kalau saya mau sedikit lebih peduli dan memperhatikan air muka dan gerak badannya, saya akan menyadari pak suaib sudah beberapa saat ini kurang sehat...wajahnya terlihat lebih pucat dibandingkan biasanya...jalan dan reaksinya lebih lambat...dan yang paling jelas dia jarang terlihat duduk di dekat pos satpam di pertigaan dekat rumah saya...
tentu saja, ketika dia masih hidup saya tidak terlalu memperhatikan perubahan yang ada pada dirinya...akibat hanya terlibat dalam percakapan basa-basi antar tetangga
saya merenung...apa saya pernah menyakiti hatinya atau membuatnya tersinggung...saya terpikir pembicaraan basa-basi antar tetangga yang kadang saya lakukan dengannya semasa hidup apakah dia pernah menangkap kesan saya acuh tak acuh dan apakah saya telah membuatnya tersinggung dengan sikap saya itu
kadang kala dia membantu saya membukakan pintu pagar dan saya sebal dengan tindakannya itu..saya menganggap dia terlalu ikut campur kehidupan keluarga saya...mungkin karena kadang ia sering bertanya atau berkomentar tentang apa2 yang terjadi di rumah saya...sifat saya yang kadang ignorant membuat saya cenderung tidak suka diutak-atik...termasuk ditanya2...sekarang saya menyadari, di antara jawaban saya, reaksi saya, bahasa tubuh saya, pasti ada minimal satu yang mungkin membuat pak suaib tersinggung...
sekarang orangnya sudah tidak ada...kalau mau minta maaf pun tidak ada gunanya...karena ada guratan rasa bersalah di dalam hati, saya terpekur, mendoakannyatapi rasanya masih saja kurang...
sungguh tidak enak...
kematian merenggut seseorang tanpa pandang bulu dan tanpa kenal waktu
ketika kematian datang, apa yang tersisa di belakang seringkali berisi penyesalan
kenapa saya tidak pernah benar2 berusaha untuk mendengarkan celotehannya ketika masih hidup kenapa saya suka merasa terganggu ketika dia bertanya2 saya dari mana, atau mau ke mana
pantas saja Rasulullah yang hatinya begitu mulia senantiasa memperlakukan semua orang dengan baik, siapa pun, kapan pun, dalam kondisi bagaimana pun...karena kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput...ntah menjemput lawan bicara kita atau diri kita sendiri...sikap Rasulullah yang terpuji membuatnya siap senantiasa untuk berjumpa dengan kematian...membuatnya siap bertemu Sang Khalik, kapan pun, dalam keadaan hati bersih
saya tidak demikian...
hari ini saya sedang bad mood...menjadikan PMS sebagai alasan saya boleh jadi bad mood dan pasang muka jelek...di hari lain juga begitu...saya bisa menjadikan praduga ataupun pikiran negatif di kepala saya sebagai alasan saya menggerutu dan cuek terhadap orang lain atau sesuatu...
sayang sekali...saya tidak menyadari...kalau Allah mengambil saya di detik2 bad mood atau detik2 pikiran negatif itu...saya akan dipanggil dalam keadaan menggerutu, dalam keadaan cuek dan masa bodoh, dalam keadaan tidak mensyukuri semua nikmat Allah...
Pak Suaib meninggal pagi ini...setelah saya berangkat ke kantor...gerobak lontong sayurnya sudah siap...begitu pun dia yang berniat pergi berjualan...tapi Allah memanggilnya...cepat saja...tidak melalui sakit yang panjang...tidak menyusahkan...yang menshalatkan banyak...yang menguburkan lebih banyak lagi...
seperti apakah saya akan meninggal nanti...apakah akan cepat seperti pak suaib ataukah akan melewati perjuangan panjang yang menyulitkan orang dulu? akankah saya dishalatkan dan didoakan oleh orang banyak? apakah ada yang mau mengantar saya ke pekuburan...
saya tidak tahu...sesungguhnya saya memang tidak tahu apa2 dan tidak pula punya kekuatan apa2...
ampuni saya ya Allah...saya hanya hamba-Mu yang lemah, sombong, acuh, kurang bersyukur, dan penuh kekurangan...yang menghabiskan hidup dengan berbasa-basi, yang kurang memiliki ketulusan, yang sering berburuk sangka...
maafkan kesalahan-kesalahan saya pada pak suaib ya Allah...berikan padanya keselamatan dunia akhirat...ampunilah dosa-dosanya...terimalah amal baiknya...dan mudahkanlah jalannya menghadap-Mu ya Allah...
selamat jalan pak suaib...semoga kehidupanmu yang berikutnya jauh lebih baik dibanding saat ini
semoga Allah menggantikan rumah petakmu yang sempit dengan istana besar yang indah dan meneduhkan
semoga Allah mengganti hari-hari laparmu dengan limpahan rejeki di surga dan semoga Allah memberikanmu teman2 yang tulus untuk menghabiskan hidupmu yang baru di akhirat...amin...
sebuah momen pembelajaran
hari ini tetangga dekat rumah saya meninggal pak suaib namanya mendadak sekali...tadi pagi pun dia masih ada...malam ini ketika sampai rumah menjelang jam 7, saya diberitahu dia telah pergi...
pak suaib mungkin bukan siapa-siapa...sebagai tetangga saya pun tidak terlalu mengenalnya karena jarang bertemu, jarang pula bertukar cerita percakapan antara saya dan pak suaib selama hidupnya lebih bisa disebut sebagai percakapan basa-basi antar tetangga
namun malam ini, rasanya sedih sekali ketika tahu dia sudah tidak ada membuat saya mengingat2 kapan terakhir kali saya melihatnya...apakah beberapa hari lalu, ataukah ketika hari raya bbrp waktu lalu...saya tidak ingat...akibat percakapan di antara kami ya selalu percakapan basa-basi antar tetangga...
ketika orangnya sudah tidak ada barulah saya mulai berpikir...apa pak suaib selama ini sakit...meninggalnya mendadak sekali...kalau saya mau sedikit lebih peduli dan memperhatikan air muka dan gerak badannya, saya akan menyadari pak suaib sudah beberapa saat ini kurang sehat...wajahnya terlihat lebih pucat dibandingkan biasanya...jalan dan reaksinya lebih lambat...dan yang paling jelas dia jarang terlihat duduk di dekat pos satpam di pertigaan dekat rumah saya...
tentu saja, ketika dia masih hidup saya tidak terlalu memperhatikan perubahan yang ada pada dirinya...akibat hanya terlibat dalam percakapan basa-basi antar tetangga
saya merenung...apa saya pernah menyakiti hatinya atau membuatnya tersinggung...saya terpikir pembicaraan basa-basi antar tetangga yang kadang saya lakukan dengannya semasa hidup apakah dia pernah menangkap kesan saya acuh tak acuh dan apakah saya telah membuatnya tersinggung dengan sikap saya itu
kadang kala dia membantu saya membukakan pintu pagar dan saya sebal dengan tindakannya itu..saya menganggap dia terlalu ikut campur kehidupan keluarga saya...mungkin karena kadang ia sering bertanya atau berkomentar tentang apa2 yang terjadi di rumah saya...sifat saya yang kadang ignorant membuat saya cenderung tidak suka diutak-atik...termasuk ditanya2...sekarang saya menyadari, di antara jawaban saya, reaksi saya, bahasa tubuh saya, pasti ada minimal satu yang mungkin membuat pak suaib tersinggung...
sekarang orangnya sudah tidak ada...kalau mau minta maaf pun tidak ada gunanya...karena ada guratan rasa bersalah di dalam hati, saya terpekur, mendoakannyatapi rasanya masih saja kurang...
sungguh tidak enak...
kematian merenggut seseorang tanpa pandang bulu dan tanpa kenal waktu
ketika kematian datang, apa yang tersisa di belakang seringkali berisi penyesalan
kenapa saya tidak pernah benar2 berusaha untuk mendengarkan celotehannya ketika masih hidup kenapa saya suka merasa terganggu ketika dia bertanya2 saya dari mana, atau mau ke mana
pantas saja Rasulullah yang hatinya begitu mulia senantiasa memperlakukan semua orang dengan baik, siapa pun, kapan pun, dalam kondisi bagaimana pun...karena kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput...ntah menjemput lawan bicara kita atau diri kita sendiri...sikap Rasulullah yang terpuji membuatnya siap senantiasa untuk berjumpa dengan kematian...membuatnya siap bertemu Sang Khalik, kapan pun, dalam keadaan hati bersih
saya tidak demikian...
hari ini saya sedang bad mood...menjadikan PMS sebagai alasan saya boleh jadi bad mood dan pasang muka jelek...di hari lain juga begitu...saya bisa menjadikan praduga ataupun pikiran negatif di kepala saya sebagai alasan saya menggerutu dan cuek terhadap orang lain atau sesuatu...
sayang sekali...saya tidak menyadari...kalau Allah mengambil saya di detik2 bad mood atau detik2 pikiran negatif itu...saya akan dipanggil dalam keadaan menggerutu, dalam keadaan cuek dan masa bodoh, dalam keadaan tidak mensyukuri semua nikmat Allah...
Pak Suaib meninggal pagi ini...setelah saya berangkat ke kantor...gerobak lontong sayurnya sudah siap...begitu pun dia yang berniat pergi berjualan...tapi Allah memanggilnya...cepat saja...tidak melalui sakit yang panjang...tidak menyusahkan...yang menshalatkan banyak...yang menguburkan lebih banyak lagi...
seperti apakah saya akan meninggal nanti...apakah akan cepat seperti pak suaib ataukah akan melewati perjuangan panjang yang menyulitkan orang dulu? akankah saya dishalatkan dan didoakan oleh orang banyak? apakah ada yang mau mengantar saya ke pekuburan...
saya tidak tahu...sesungguhnya saya memang tidak tahu apa2 dan tidak pula punya kekuatan apa2...
ampuni saya ya Allah...saya hanya hamba-Mu yang lemah, sombong, acuh, kurang bersyukur, dan penuh kekurangan...yang menghabiskan hidup dengan berbasa-basi, yang kurang memiliki ketulusan, yang sering berburuk sangka...
maafkan kesalahan-kesalahan saya pada pak suaib ya Allah...berikan padanya keselamatan dunia akhirat...ampunilah dosa-dosanya...terimalah amal baiknya...dan mudahkanlah jalannya menghadap-Mu ya Allah...
selamat jalan pak suaib...semoga kehidupanmu yang berikutnya jauh lebih baik dibanding saat ini
semoga Allah menggantikan rumah petakmu yang sempit dengan istana besar yang indah dan meneduhkan
semoga Allah mengganti hari-hari laparmu dengan limpahan rejeki di surga dan semoga Allah memberikanmu teman2 yang tulus untuk menghabiskan hidupmu yang baru di akhirat...amin...
Men are from Mars, Women are from Venus
Ketika buku Men are from Mars, Women are from Venus diterbitkan di Indonesia, banyak orang yang membeli dan mulai membincangkan isi buku ini dimana-mana. Saya, sayangnya, tidak termasuk di antara orang-orang itu. Saya merasa tidak terlalu tertarik membaca buku itu karena saya pikir wanita dan laki-laki ya memang berbeda. Secara kasat mata saja sudah kelihatan, belum lagi sistem reproduksi, saya pikir ya pasti sifat-sifatnya pun berbeda.
Sekarang, saya sedikit menyesal. Mungkin ada baiknya kalau waktu itu saya ikut-ikutan menyerbu toko buku dan antre membayar buku itu di kasir. Mengapa? Karena saya merasa salah menyampaikan isi hati saya pada orang yang sangat saya sayangi. Setelah saya renungi di rumah, setelah pikiran saya tenang, saya merasa ada beberapa perkataan saya yang bisa membuatnya salah pengertian, baik terhadap perasaan saya tentang dia ataupun tentang persepsi saya tentang dia.
Mungkin karena topik pembicaraan juga agak 'berat' jadi pikiran juga dipenuhi emosi dan praduga ketika kata-kata terlontar dari mulut. Saya yang sedari dulu selalu 'grasak-grusuk', clumsy, dan ceplas-ceplos merasa telah mengungkapkan dengan salah apa yang sebenarnya saya rasakan.
Ketika dia bilang dia tidak yakin apakah ingin menikah dengan saya, yang ada di hati dan pikiran saya adalah kepanikan. Saya langsung bertanya-tanya, apa salah saya dan mengapa hati dan pikirannya bisa berubah drastis dalam hitungan hari. Seperti sudah dapat diduga, yang keluar dari mulut saya adalah, kenapa? kok bisa? Dengan nada yang meninggi dan ujung-ujungnya nangis. Waks!!!
Si dia pun memberikan penjelasan. Yang saat saya ada di dekatnya, otak saya belum mampu berpikir jernih.
Akhirnya ya lagi-lagi yang keluar dari mulut adalah perkataan yang tidak sinkron dengan isi hati saya yang sebenarnya.
Lantas apa dong isi hati saya yang sebenarnya?
Sebetulnya, saya sepenuhnya mengerti dengan apa yang ingin dia sampaikan. Saya tahu dia sayang sama saya dan begitu pun saya, sayang sama dia. Saya dan dia sama-sama ingin membangun hubungan yang berujung di pernikahan. Masalahnya, saya dikejar-kejar orangtua yang ingin saya menikah sebelum adik saya. Dia punya kekhawatiran tentang biaya pernikahan dan hal-hal lain setelah pernikahan. Mungkin seperti membiayai keluarga barunya dan tetap membantu ibu dan kakak-kakaknya.
Hanya saja, saya dan dia sama-sama tidak pandai bicara. Saya extrovert tapi sering salah bicara. Dia introvert, otomatis pendiam dan tidak suka bicara banyak. Dua hal ini ditambah dia dari Mars dan saya dari Venus (kata si penulis buku tadi) membuat komunikasi yang terjalin sepertinya kurang efektif.
Ketimbang marah dan menangis, sebetulnya saya ingin mendengar hal-hal apa saja yang membuatnya merasa tidak yakin. Ketika dia bilang ketidakyakinan tidak berasal dari saya melainkan dari dirinya, saya merasa itu terjadi karena kekhawatirannya. Ketika dia bilang saya ingin menikah tapi bisa tidak kalau tidak secepat ini, saya juga mengerti.
Karena walaupun saya ingin menikah, saya tidak ingin terburu-buru. Selain ingin shalat istikharah dan tahajjud lebih banyak untuk memohon petunjuk, saya ingin punya waktu untuk mengurus pernikahan dan mengurus diri pra menikah dengan lebih baik. Untuk saya pribadi, tidak apa menunda beberapa saat selama saya yakin dengan perasaan saya dan perasaannya. Karena untuk saya, lebih baik menunda namun tetap menikahi orang yang sangat saya cintai daripada buru-buru menikah dengan orang yang tidak saya cintai. Selama dia pun menunjukkan keseriusan dan kesungguhan hati, saya bisa menunggu.
Jadi yah, begitulah...
Sekarang sudah dua hari saya tidak mendengar kabarnya.
Saya harap dia baik-baik saja dan sehat.
Saya harap perasaaannya juga tidak berubah dalam beberapa hari ini. Bila perasaan saya terhadapnya benar, perasaannya tidak akan berubah karena saya tahu dia menyayangi saya. Karena saya pun begitu. Perasaaan saya tidak berubah, justru semakin kuat. Beberapa hari merenung membuat saya merasa saya telah dipertemukan dengan orang yang tepat, yang telah berhasil mengisi relung hati saya yang selama ini sering saya biarkan kosong.
Saya ingin mempertahankan cinta saya ini, saya ingin mempertahankan dia, saya ingin menjadi pasangan hidup dan hatinya sepanjang sisa hidup saya.
Pikiran wanita dan laki-laki memang sering kali berbeda walaupun perasaan keduanya sama. Sudut pandang yang digunakan wanita dan laki-laki berbeda yang menyebabkan silang pendapat dan perselisihan dapat terjadi. Hanya saja, saya merasa, selama perasaan yang ada di dalam hati keduanya sama, yakni kasih sayang, saya pikir Mars dan Venus pun akhirnya dapat menyampaikan pesan dengan benar. Mungkin pesan itu tersampaikan tidak melalui uraian panjang kata-kata tapi dengan tatapan mata dan gandengan tangan. Rasanya ketika pesan disampaikan dengan isyarat anggota tubuh, Mars dan Venus akhirnya punya bahasa yang sama.
Sekarang, saya sedikit menyesal. Mungkin ada baiknya kalau waktu itu saya ikut-ikutan menyerbu toko buku dan antre membayar buku itu di kasir. Mengapa? Karena saya merasa salah menyampaikan isi hati saya pada orang yang sangat saya sayangi. Setelah saya renungi di rumah, setelah pikiran saya tenang, saya merasa ada beberapa perkataan saya yang bisa membuatnya salah pengertian, baik terhadap perasaan saya tentang dia ataupun tentang persepsi saya tentang dia.
Mungkin karena topik pembicaraan juga agak 'berat' jadi pikiran juga dipenuhi emosi dan praduga ketika kata-kata terlontar dari mulut. Saya yang sedari dulu selalu 'grasak-grusuk', clumsy, dan ceplas-ceplos merasa telah mengungkapkan dengan salah apa yang sebenarnya saya rasakan.
Ketika dia bilang dia tidak yakin apakah ingin menikah dengan saya, yang ada di hati dan pikiran saya adalah kepanikan. Saya langsung bertanya-tanya, apa salah saya dan mengapa hati dan pikirannya bisa berubah drastis dalam hitungan hari. Seperti sudah dapat diduga, yang keluar dari mulut saya adalah, kenapa? kok bisa? Dengan nada yang meninggi dan ujung-ujungnya nangis. Waks!!!
Si dia pun memberikan penjelasan. Yang saat saya ada di dekatnya, otak saya belum mampu berpikir jernih.
Akhirnya ya lagi-lagi yang keluar dari mulut adalah perkataan yang tidak sinkron dengan isi hati saya yang sebenarnya.
Lantas apa dong isi hati saya yang sebenarnya?
Sebetulnya, saya sepenuhnya mengerti dengan apa yang ingin dia sampaikan. Saya tahu dia sayang sama saya dan begitu pun saya, sayang sama dia. Saya dan dia sama-sama ingin membangun hubungan yang berujung di pernikahan. Masalahnya, saya dikejar-kejar orangtua yang ingin saya menikah sebelum adik saya. Dia punya kekhawatiran tentang biaya pernikahan dan hal-hal lain setelah pernikahan. Mungkin seperti membiayai keluarga barunya dan tetap membantu ibu dan kakak-kakaknya.
Hanya saja, saya dan dia sama-sama tidak pandai bicara. Saya extrovert tapi sering salah bicara. Dia introvert, otomatis pendiam dan tidak suka bicara banyak. Dua hal ini ditambah dia dari Mars dan saya dari Venus (kata si penulis buku tadi) membuat komunikasi yang terjalin sepertinya kurang efektif.
Ketimbang marah dan menangis, sebetulnya saya ingin mendengar hal-hal apa saja yang membuatnya merasa tidak yakin. Ketika dia bilang ketidakyakinan tidak berasal dari saya melainkan dari dirinya, saya merasa itu terjadi karena kekhawatirannya. Ketika dia bilang saya ingin menikah tapi bisa tidak kalau tidak secepat ini, saya juga mengerti.
Karena walaupun saya ingin menikah, saya tidak ingin terburu-buru. Selain ingin shalat istikharah dan tahajjud lebih banyak untuk memohon petunjuk, saya ingin punya waktu untuk mengurus pernikahan dan mengurus diri pra menikah dengan lebih baik. Untuk saya pribadi, tidak apa menunda beberapa saat selama saya yakin dengan perasaan saya dan perasaannya. Karena untuk saya, lebih baik menunda namun tetap menikahi orang yang sangat saya cintai daripada buru-buru menikah dengan orang yang tidak saya cintai. Selama dia pun menunjukkan keseriusan dan kesungguhan hati, saya bisa menunggu.
Jadi yah, begitulah...
Sekarang sudah dua hari saya tidak mendengar kabarnya.
Saya harap dia baik-baik saja dan sehat.
Saya harap perasaaannya juga tidak berubah dalam beberapa hari ini. Bila perasaan saya terhadapnya benar, perasaannya tidak akan berubah karena saya tahu dia menyayangi saya. Karena saya pun begitu. Perasaaan saya tidak berubah, justru semakin kuat. Beberapa hari merenung membuat saya merasa saya telah dipertemukan dengan orang yang tepat, yang telah berhasil mengisi relung hati saya yang selama ini sering saya biarkan kosong.
Saya ingin mempertahankan cinta saya ini, saya ingin mempertahankan dia, saya ingin menjadi pasangan hidup dan hatinya sepanjang sisa hidup saya.
Pikiran wanita dan laki-laki memang sering kali berbeda walaupun perasaan keduanya sama. Sudut pandang yang digunakan wanita dan laki-laki berbeda yang menyebabkan silang pendapat dan perselisihan dapat terjadi. Hanya saja, saya merasa, selama perasaan yang ada di dalam hati keduanya sama, yakni kasih sayang, saya pikir Mars dan Venus pun akhirnya dapat menyampaikan pesan dengan benar. Mungkin pesan itu tersampaikan tidak melalui uraian panjang kata-kata tapi dengan tatapan mata dan gandengan tangan. Rasanya ketika pesan disampaikan dengan isyarat anggota tubuh, Mars dan Venus akhirnya punya bahasa yang sama.
merci maman..merci papa..
Ass…
Terima kasih untuk oma, opa, om, tante, dan saudara2 sekalian telah berkenan hadir di rumah kami hari ini…
Sebenarnya acara hari ini adalah arisan rutin dari keluarga Jassin dan Saboe..akan tetapi hari ini juga bertepatan dengan hari yang special, yaitu tepat 30 tahun hari pernikahan kedua orangtua saya. Tidak terasa sudah tiga dasawarsa, rasanya baru kemarin kami merayakan pernikahan perak.
Tapi apa yang ada di dunia ini memang berubah dengan amat cepat. 5 tahun lalu, syukuran diadakan di Hotel Wisata, tempat kedua orangtua kami menikah tanggal 18 Mei 1978. Tahun ini, Hotel Wisata sudah rata dengan tanah dan Grand Indonesia sudah berdiri megah di sana.
Begitu juga keluarga kami. Lima tahun lalu, umur saya belum ¼ abad. Tahun ini adik saya nomor 3 sudah mau ¼ abad dan umur saya sudah dekat kepala 3. hehehe..
Rasanya cepat sekali semua berlalu karena setiap kali saya mengingat apa yang sudah berlalu semua terasa baru kemarin, saya masih bisa memutar kejadian2 dalam 5 tahun belakangan ini seperti film di otak saya.
Banyak sekali yang terjadi di rumah ini dalam 5 tahun belakangan. Ada yang menyenangkan tapi banyak juga yang menimbulkan kesedihan. Sebagai anak, kami tidak selalu akur dengan orangtua, sering kali justru nakal, keras kepala, dan suka melawan.
Sebagai suami istri, kedua orang tua kami juga mengalami naik turun. Kadang hubungan berjalan baik, sering kali pula bertengkar.
Namun dari semua hal2 tadi, hanya satu yang tidak akan berubah. Dan hal itu adalah kasih sayang kedua orang tua kami. Dalam kondisi seburuk apapun kami, anak2nya, kasih sayang itu tidak akan pernah pupus. Ketika hubungan mereka baik ataupun ketika mereka sedang bertengkar, kasih sayang itu selalu ada. Dalam rumah tangga perbedaan pasti akan selalu ada, tapi kami yakin, dalam naik turunnya rumah tangga kedua orang tua kami, mereka akan mensyukuri adanya kami, anak2 mereka, dan adanya keluarga ini. Dan itu semua karena kasih sayang mereka yang amat sangat besar untuk kami.
Sebagai anak, kami masih jauh sekali dari yang disebut anak berbakti. Sampai saat ini pun, belum ada satu orang di antara kami yang bisa meringankan beban mereka, setidak2nya membuat tanggung jawab mereka sedikit berkurang, dengan menikah. Kami tahu mereka sangat ingin menikahkan kami, selagi mereka masih ada, begitu kata mereka. Kami juga masih hidup di rumah ini, bergantung pada mereka, masih suka menolak permintaan mereka, tidak setuju dengan pendapat2 mereka, dan membuat mereka khawatir setiap hari.
Bila nantinya Allah menjadikan kami orang2 yang berhasil, itu semua karena perjuangan dan doa mereka. Namun bila kami memberikan semua harta yang kami dapat untuk mereka, membuatkan mereka rumah yang sangat besar, mengajak mereka mengelilingi dunia, menghujani mereka dengan hadiah...itu semua tidak akan pernah sebanding dengan keringat dan air mata yang sudah mereka curahkan untuk kami selama 30 tahun ini.
Karenanya, hari ini, tidak ada yang pantas kami ucapkan selain maafkan kami dan terima kasih. Maafkan kami karena kekurangan kami begitu banyak dan kami masih amat jauh dari membahagiakan papi dan mami...Terima kasih kami sedalam2nya dan setulus2nya karena telah mencintai, menyayangi kami apa adanya dengan segala kekurangan kami...Terima kasih atas setiap perhatian, keringat, air mata, dan doa yang sudah diberikan selama 10.950 hari, 262.800 jam, 15.768.000 menit, dan 946.080.000 detik. Selamat ulang tahun pernikahan ke-30 mami papi. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk papi dan mami. We love you so much...now, tomorrow, always...
Dibuat untuk syukuran ultah tahun pernijahan ke-30 mami dan papi, 18 Mei 2008
Terima kasih untuk oma, opa, om, tante, dan saudara2 sekalian telah berkenan hadir di rumah kami hari ini…
Sebenarnya acara hari ini adalah arisan rutin dari keluarga Jassin dan Saboe..akan tetapi hari ini juga bertepatan dengan hari yang special, yaitu tepat 30 tahun hari pernikahan kedua orangtua saya. Tidak terasa sudah tiga dasawarsa, rasanya baru kemarin kami merayakan pernikahan perak.
Tapi apa yang ada di dunia ini memang berubah dengan amat cepat. 5 tahun lalu, syukuran diadakan di Hotel Wisata, tempat kedua orangtua kami menikah tanggal 18 Mei 1978. Tahun ini, Hotel Wisata sudah rata dengan tanah dan Grand Indonesia sudah berdiri megah di sana.
Begitu juga keluarga kami. Lima tahun lalu, umur saya belum ¼ abad. Tahun ini adik saya nomor 3 sudah mau ¼ abad dan umur saya sudah dekat kepala 3. hehehe..
Rasanya cepat sekali semua berlalu karena setiap kali saya mengingat apa yang sudah berlalu semua terasa baru kemarin, saya masih bisa memutar kejadian2 dalam 5 tahun belakangan ini seperti film di otak saya.
Banyak sekali yang terjadi di rumah ini dalam 5 tahun belakangan. Ada yang menyenangkan tapi banyak juga yang menimbulkan kesedihan. Sebagai anak, kami tidak selalu akur dengan orangtua, sering kali justru nakal, keras kepala, dan suka melawan.
Sebagai suami istri, kedua orang tua kami juga mengalami naik turun. Kadang hubungan berjalan baik, sering kali pula bertengkar.
Namun dari semua hal2 tadi, hanya satu yang tidak akan berubah. Dan hal itu adalah kasih sayang kedua orang tua kami. Dalam kondisi seburuk apapun kami, anak2nya, kasih sayang itu tidak akan pernah pupus. Ketika hubungan mereka baik ataupun ketika mereka sedang bertengkar, kasih sayang itu selalu ada. Dalam rumah tangga perbedaan pasti akan selalu ada, tapi kami yakin, dalam naik turunnya rumah tangga kedua orang tua kami, mereka akan mensyukuri adanya kami, anak2 mereka, dan adanya keluarga ini. Dan itu semua karena kasih sayang mereka yang amat sangat besar untuk kami.
Sebagai anak, kami masih jauh sekali dari yang disebut anak berbakti. Sampai saat ini pun, belum ada satu orang di antara kami yang bisa meringankan beban mereka, setidak2nya membuat tanggung jawab mereka sedikit berkurang, dengan menikah. Kami tahu mereka sangat ingin menikahkan kami, selagi mereka masih ada, begitu kata mereka. Kami juga masih hidup di rumah ini, bergantung pada mereka, masih suka menolak permintaan mereka, tidak setuju dengan pendapat2 mereka, dan membuat mereka khawatir setiap hari.
Bila nantinya Allah menjadikan kami orang2 yang berhasil, itu semua karena perjuangan dan doa mereka. Namun bila kami memberikan semua harta yang kami dapat untuk mereka, membuatkan mereka rumah yang sangat besar, mengajak mereka mengelilingi dunia, menghujani mereka dengan hadiah...itu semua tidak akan pernah sebanding dengan keringat dan air mata yang sudah mereka curahkan untuk kami selama 30 tahun ini.
Karenanya, hari ini, tidak ada yang pantas kami ucapkan selain maafkan kami dan terima kasih. Maafkan kami karena kekurangan kami begitu banyak dan kami masih amat jauh dari membahagiakan papi dan mami...Terima kasih kami sedalam2nya dan setulus2nya karena telah mencintai, menyayangi kami apa adanya dengan segala kekurangan kami...Terima kasih atas setiap perhatian, keringat, air mata, dan doa yang sudah diberikan selama 10.950 hari, 262.800 jam, 15.768.000 menit, dan 946.080.000 detik. Selamat ulang tahun pernikahan ke-30 mami papi. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk papi dan mami. We love you so much...now, tomorrow, always...
Dibuat untuk syukuran ultah tahun pernijahan ke-30 mami dan papi, 18 Mei 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
