kematian...menutup satu pintu dan membuka pintu yang lain...membuat sederetan peristiwa menjadi kenangan untuk mengisi lembaran-lembaran dengan cerita yang baru peralihan dari dunia yang maya ke yang hakiki sesuatu yang ditangisi namun terkadang juga dianggap sebagai jalan yang terbaik
sebuah momen pembelajaran
hari ini tetangga dekat rumah saya meninggal pak suaib namanya mendadak sekali...tadi pagi pun dia masih ada...malam ini ketika sampai rumah menjelang jam 7, saya diberitahu dia telah pergi...
pak suaib mungkin bukan siapa-siapa...sebagai tetangga saya pun tidak terlalu mengenalnya karena jarang bertemu, jarang pula bertukar cerita percakapan antara saya dan pak suaib selama hidupnya lebih bisa disebut sebagai percakapan basa-basi antar tetangga
namun malam ini, rasanya sedih sekali ketika tahu dia sudah tidak ada membuat saya mengingat2 kapan terakhir kali saya melihatnya...apakah beberapa hari lalu, ataukah ketika hari raya bbrp waktu lalu...saya tidak ingat...akibat percakapan di antara kami ya selalu percakapan basa-basi antar tetangga...
ketika orangnya sudah tidak ada barulah saya mulai berpikir...apa pak suaib selama ini sakit...meninggalnya mendadak sekali...kalau saya mau sedikit lebih peduli dan memperhatikan air muka dan gerak badannya, saya akan menyadari pak suaib sudah beberapa saat ini kurang sehat...wajahnya terlihat lebih pucat dibandingkan biasanya...jalan dan reaksinya lebih lambat...dan yang paling jelas dia jarang terlihat duduk di dekat pos satpam di pertigaan dekat rumah saya...
tentu saja, ketika dia masih hidup saya tidak terlalu memperhatikan perubahan yang ada pada dirinya...akibat hanya terlibat dalam percakapan basa-basi antar tetangga
saya merenung...apa saya pernah menyakiti hatinya atau membuatnya tersinggung...saya terpikir pembicaraan basa-basi antar tetangga yang kadang saya lakukan dengannya semasa hidup apakah dia pernah menangkap kesan saya acuh tak acuh dan apakah saya telah membuatnya tersinggung dengan sikap saya itu
kadang kala dia membantu saya membukakan pintu pagar dan saya sebal dengan tindakannya itu..saya menganggap dia terlalu ikut campur kehidupan keluarga saya...mungkin karena kadang ia sering bertanya atau berkomentar tentang apa2 yang terjadi di rumah saya...sifat saya yang kadang ignorant membuat saya cenderung tidak suka diutak-atik...termasuk ditanya2...sekarang saya menyadari, di antara jawaban saya, reaksi saya, bahasa tubuh saya, pasti ada minimal satu yang mungkin membuat pak suaib tersinggung...
sekarang orangnya sudah tidak ada...kalau mau minta maaf pun tidak ada gunanya...karena ada guratan rasa bersalah di dalam hati, saya terpekur, mendoakannyatapi rasanya masih saja kurang...
sungguh tidak enak...
kematian merenggut seseorang tanpa pandang bulu dan tanpa kenal waktu
ketika kematian datang, apa yang tersisa di belakang seringkali berisi penyesalan
kenapa saya tidak pernah benar2 berusaha untuk mendengarkan celotehannya ketika masih hidup kenapa saya suka merasa terganggu ketika dia bertanya2 saya dari mana, atau mau ke mana
pantas saja Rasulullah yang hatinya begitu mulia senantiasa memperlakukan semua orang dengan baik, siapa pun, kapan pun, dalam kondisi bagaimana pun...karena kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput...ntah menjemput lawan bicara kita atau diri kita sendiri...sikap Rasulullah yang terpuji membuatnya siap senantiasa untuk berjumpa dengan kematian...membuatnya siap bertemu Sang Khalik, kapan pun, dalam keadaan hati bersih
saya tidak demikian...
hari ini saya sedang bad mood...menjadikan PMS sebagai alasan saya boleh jadi bad mood dan pasang muka jelek...di hari lain juga begitu...saya bisa menjadikan praduga ataupun pikiran negatif di kepala saya sebagai alasan saya menggerutu dan cuek terhadap orang lain atau sesuatu...
sayang sekali...saya tidak menyadari...kalau Allah mengambil saya di detik2 bad mood atau detik2 pikiran negatif itu...saya akan dipanggil dalam keadaan menggerutu, dalam keadaan cuek dan masa bodoh, dalam keadaan tidak mensyukuri semua nikmat Allah...
Pak Suaib meninggal pagi ini...setelah saya berangkat ke kantor...gerobak lontong sayurnya sudah siap...begitu pun dia yang berniat pergi berjualan...tapi Allah memanggilnya...cepat saja...tidak melalui sakit yang panjang...tidak menyusahkan...yang menshalatkan banyak...yang menguburkan lebih banyak lagi...
seperti apakah saya akan meninggal nanti...apakah akan cepat seperti pak suaib ataukah akan melewati perjuangan panjang yang menyulitkan orang dulu? akankah saya dishalatkan dan didoakan oleh orang banyak? apakah ada yang mau mengantar saya ke pekuburan...
saya tidak tahu...sesungguhnya saya memang tidak tahu apa2 dan tidak pula punya kekuatan apa2...
ampuni saya ya Allah...saya hanya hamba-Mu yang lemah, sombong, acuh, kurang bersyukur, dan penuh kekurangan...yang menghabiskan hidup dengan berbasa-basi, yang kurang memiliki ketulusan, yang sering berburuk sangka...
maafkan kesalahan-kesalahan saya pada pak suaib ya Allah...berikan padanya keselamatan dunia akhirat...ampunilah dosa-dosanya...terimalah amal baiknya...dan mudahkanlah jalannya menghadap-Mu ya Allah...
selamat jalan pak suaib...semoga kehidupanmu yang berikutnya jauh lebih baik dibanding saat ini
semoga Allah menggantikan rumah petakmu yang sempit dengan istana besar yang indah dan meneduhkan
semoga Allah mengganti hari-hari laparmu dengan limpahan rejeki di surga dan semoga Allah memberikanmu teman2 yang tulus untuk menghabiskan hidupmu yang baru di akhirat...amin...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar