Ketika buku Men are from Mars, Women are from Venus diterbitkan di Indonesia, banyak orang yang membeli dan mulai membincangkan isi buku ini dimana-mana. Saya, sayangnya, tidak termasuk di antara orang-orang itu. Saya merasa tidak terlalu tertarik membaca buku itu karena saya pikir wanita dan laki-laki ya memang berbeda. Secara kasat mata saja sudah kelihatan, belum lagi sistem reproduksi, saya pikir ya pasti sifat-sifatnya pun berbeda.
Sekarang, saya sedikit menyesal. Mungkin ada baiknya kalau waktu itu saya ikut-ikutan menyerbu toko buku dan antre membayar buku itu di kasir. Mengapa? Karena saya merasa salah menyampaikan isi hati saya pada orang yang sangat saya sayangi. Setelah saya renungi di rumah, setelah pikiran saya tenang, saya merasa ada beberapa perkataan saya yang bisa membuatnya salah pengertian, baik terhadap perasaan saya tentang dia ataupun tentang persepsi saya tentang dia.
Mungkin karena topik pembicaraan juga agak 'berat' jadi pikiran juga dipenuhi emosi dan praduga ketika kata-kata terlontar dari mulut. Saya yang sedari dulu selalu 'grasak-grusuk', clumsy, dan ceplas-ceplos merasa telah mengungkapkan dengan salah apa yang sebenarnya saya rasakan.
Ketika dia bilang dia tidak yakin apakah ingin menikah dengan saya, yang ada di hati dan pikiran saya adalah kepanikan. Saya langsung bertanya-tanya, apa salah saya dan mengapa hati dan pikirannya bisa berubah drastis dalam hitungan hari. Seperti sudah dapat diduga, yang keluar dari mulut saya adalah, kenapa? kok bisa? Dengan nada yang meninggi dan ujung-ujungnya nangis. Waks!!!
Si dia pun memberikan penjelasan. Yang saat saya ada di dekatnya, otak saya belum mampu berpikir jernih.
Akhirnya ya lagi-lagi yang keluar dari mulut adalah perkataan yang tidak sinkron dengan isi hati saya yang sebenarnya.
Lantas apa dong isi hati saya yang sebenarnya?
Sebetulnya, saya sepenuhnya mengerti dengan apa yang ingin dia sampaikan. Saya tahu dia sayang sama saya dan begitu pun saya, sayang sama dia. Saya dan dia sama-sama ingin membangun hubungan yang berujung di pernikahan. Masalahnya, saya dikejar-kejar orangtua yang ingin saya menikah sebelum adik saya. Dia punya kekhawatiran tentang biaya pernikahan dan hal-hal lain setelah pernikahan. Mungkin seperti membiayai keluarga barunya dan tetap membantu ibu dan kakak-kakaknya.
Hanya saja, saya dan dia sama-sama tidak pandai bicara. Saya extrovert tapi sering salah bicara. Dia introvert, otomatis pendiam dan tidak suka bicara banyak. Dua hal ini ditambah dia dari Mars dan saya dari Venus (kata si penulis buku tadi) membuat komunikasi yang terjalin sepertinya kurang efektif.
Ketimbang marah dan menangis, sebetulnya saya ingin mendengar hal-hal apa saja yang membuatnya merasa tidak yakin. Ketika dia bilang ketidakyakinan tidak berasal dari saya melainkan dari dirinya, saya merasa itu terjadi karena kekhawatirannya. Ketika dia bilang saya ingin menikah tapi bisa tidak kalau tidak secepat ini, saya juga mengerti.
Karena walaupun saya ingin menikah, saya tidak ingin terburu-buru. Selain ingin shalat istikharah dan tahajjud lebih banyak untuk memohon petunjuk, saya ingin punya waktu untuk mengurus pernikahan dan mengurus diri pra menikah dengan lebih baik. Untuk saya pribadi, tidak apa menunda beberapa saat selama saya yakin dengan perasaan saya dan perasaannya. Karena untuk saya, lebih baik menunda namun tetap menikahi orang yang sangat saya cintai daripada buru-buru menikah dengan orang yang tidak saya cintai. Selama dia pun menunjukkan keseriusan dan kesungguhan hati, saya bisa menunggu.
Jadi yah, begitulah...
Sekarang sudah dua hari saya tidak mendengar kabarnya.
Saya harap dia baik-baik saja dan sehat.
Saya harap perasaaannya juga tidak berubah dalam beberapa hari ini. Bila perasaan saya terhadapnya benar, perasaannya tidak akan berubah karena saya tahu dia menyayangi saya. Karena saya pun begitu. Perasaaan saya tidak berubah, justru semakin kuat. Beberapa hari merenung membuat saya merasa saya telah dipertemukan dengan orang yang tepat, yang telah berhasil mengisi relung hati saya yang selama ini sering saya biarkan kosong.
Saya ingin mempertahankan cinta saya ini, saya ingin mempertahankan dia, saya ingin menjadi pasangan hidup dan hatinya sepanjang sisa hidup saya.
Pikiran wanita dan laki-laki memang sering kali berbeda walaupun perasaan keduanya sama. Sudut pandang yang digunakan wanita dan laki-laki berbeda yang menyebabkan silang pendapat dan perselisihan dapat terjadi. Hanya saja, saya merasa, selama perasaan yang ada di dalam hati keduanya sama, yakni kasih sayang, saya pikir Mars dan Venus pun akhirnya dapat menyampaikan pesan dengan benar. Mungkin pesan itu tersampaikan tidak melalui uraian panjang kata-kata tapi dengan tatapan mata dan gandengan tangan. Rasanya ketika pesan disampaikan dengan isyarat anggota tubuh, Mars dan Venus akhirnya punya bahasa yang sama.
merci maman..merci papa..
Ass…
Terima kasih untuk oma, opa, om, tante, dan saudara2 sekalian telah berkenan hadir di rumah kami hari ini…
Sebenarnya acara hari ini adalah arisan rutin dari keluarga Jassin dan Saboe..akan tetapi hari ini juga bertepatan dengan hari yang special, yaitu tepat 30 tahun hari pernikahan kedua orangtua saya. Tidak terasa sudah tiga dasawarsa, rasanya baru kemarin kami merayakan pernikahan perak.
Tapi apa yang ada di dunia ini memang berubah dengan amat cepat. 5 tahun lalu, syukuran diadakan di Hotel Wisata, tempat kedua orangtua kami menikah tanggal 18 Mei 1978. Tahun ini, Hotel Wisata sudah rata dengan tanah dan Grand Indonesia sudah berdiri megah di sana.
Begitu juga keluarga kami. Lima tahun lalu, umur saya belum ¼ abad. Tahun ini adik saya nomor 3 sudah mau ¼ abad dan umur saya sudah dekat kepala 3. hehehe..
Rasanya cepat sekali semua berlalu karena setiap kali saya mengingat apa yang sudah berlalu semua terasa baru kemarin, saya masih bisa memutar kejadian2 dalam 5 tahun belakangan ini seperti film di otak saya.
Banyak sekali yang terjadi di rumah ini dalam 5 tahun belakangan. Ada yang menyenangkan tapi banyak juga yang menimbulkan kesedihan. Sebagai anak, kami tidak selalu akur dengan orangtua, sering kali justru nakal, keras kepala, dan suka melawan.
Sebagai suami istri, kedua orang tua kami juga mengalami naik turun. Kadang hubungan berjalan baik, sering kali pula bertengkar.
Namun dari semua hal2 tadi, hanya satu yang tidak akan berubah. Dan hal itu adalah kasih sayang kedua orang tua kami. Dalam kondisi seburuk apapun kami, anak2nya, kasih sayang itu tidak akan pernah pupus. Ketika hubungan mereka baik ataupun ketika mereka sedang bertengkar, kasih sayang itu selalu ada. Dalam rumah tangga perbedaan pasti akan selalu ada, tapi kami yakin, dalam naik turunnya rumah tangga kedua orang tua kami, mereka akan mensyukuri adanya kami, anak2 mereka, dan adanya keluarga ini. Dan itu semua karena kasih sayang mereka yang amat sangat besar untuk kami.
Sebagai anak, kami masih jauh sekali dari yang disebut anak berbakti. Sampai saat ini pun, belum ada satu orang di antara kami yang bisa meringankan beban mereka, setidak2nya membuat tanggung jawab mereka sedikit berkurang, dengan menikah. Kami tahu mereka sangat ingin menikahkan kami, selagi mereka masih ada, begitu kata mereka. Kami juga masih hidup di rumah ini, bergantung pada mereka, masih suka menolak permintaan mereka, tidak setuju dengan pendapat2 mereka, dan membuat mereka khawatir setiap hari.
Bila nantinya Allah menjadikan kami orang2 yang berhasil, itu semua karena perjuangan dan doa mereka. Namun bila kami memberikan semua harta yang kami dapat untuk mereka, membuatkan mereka rumah yang sangat besar, mengajak mereka mengelilingi dunia, menghujani mereka dengan hadiah...itu semua tidak akan pernah sebanding dengan keringat dan air mata yang sudah mereka curahkan untuk kami selama 30 tahun ini.
Karenanya, hari ini, tidak ada yang pantas kami ucapkan selain maafkan kami dan terima kasih. Maafkan kami karena kekurangan kami begitu banyak dan kami masih amat jauh dari membahagiakan papi dan mami...Terima kasih kami sedalam2nya dan setulus2nya karena telah mencintai, menyayangi kami apa adanya dengan segala kekurangan kami...Terima kasih atas setiap perhatian, keringat, air mata, dan doa yang sudah diberikan selama 10.950 hari, 262.800 jam, 15.768.000 menit, dan 946.080.000 detik. Selamat ulang tahun pernikahan ke-30 mami papi. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk papi dan mami. We love you so much...now, tomorrow, always...
Dibuat untuk syukuran ultah tahun pernijahan ke-30 mami dan papi, 18 Mei 2008
Terima kasih untuk oma, opa, om, tante, dan saudara2 sekalian telah berkenan hadir di rumah kami hari ini…
Sebenarnya acara hari ini adalah arisan rutin dari keluarga Jassin dan Saboe..akan tetapi hari ini juga bertepatan dengan hari yang special, yaitu tepat 30 tahun hari pernikahan kedua orangtua saya. Tidak terasa sudah tiga dasawarsa, rasanya baru kemarin kami merayakan pernikahan perak.
Tapi apa yang ada di dunia ini memang berubah dengan amat cepat. 5 tahun lalu, syukuran diadakan di Hotel Wisata, tempat kedua orangtua kami menikah tanggal 18 Mei 1978. Tahun ini, Hotel Wisata sudah rata dengan tanah dan Grand Indonesia sudah berdiri megah di sana.
Begitu juga keluarga kami. Lima tahun lalu, umur saya belum ¼ abad. Tahun ini adik saya nomor 3 sudah mau ¼ abad dan umur saya sudah dekat kepala 3. hehehe..
Rasanya cepat sekali semua berlalu karena setiap kali saya mengingat apa yang sudah berlalu semua terasa baru kemarin, saya masih bisa memutar kejadian2 dalam 5 tahun belakangan ini seperti film di otak saya.
Banyak sekali yang terjadi di rumah ini dalam 5 tahun belakangan. Ada yang menyenangkan tapi banyak juga yang menimbulkan kesedihan. Sebagai anak, kami tidak selalu akur dengan orangtua, sering kali justru nakal, keras kepala, dan suka melawan.
Sebagai suami istri, kedua orang tua kami juga mengalami naik turun. Kadang hubungan berjalan baik, sering kali pula bertengkar.
Namun dari semua hal2 tadi, hanya satu yang tidak akan berubah. Dan hal itu adalah kasih sayang kedua orang tua kami. Dalam kondisi seburuk apapun kami, anak2nya, kasih sayang itu tidak akan pernah pupus. Ketika hubungan mereka baik ataupun ketika mereka sedang bertengkar, kasih sayang itu selalu ada. Dalam rumah tangga perbedaan pasti akan selalu ada, tapi kami yakin, dalam naik turunnya rumah tangga kedua orang tua kami, mereka akan mensyukuri adanya kami, anak2 mereka, dan adanya keluarga ini. Dan itu semua karena kasih sayang mereka yang amat sangat besar untuk kami.
Sebagai anak, kami masih jauh sekali dari yang disebut anak berbakti. Sampai saat ini pun, belum ada satu orang di antara kami yang bisa meringankan beban mereka, setidak2nya membuat tanggung jawab mereka sedikit berkurang, dengan menikah. Kami tahu mereka sangat ingin menikahkan kami, selagi mereka masih ada, begitu kata mereka. Kami juga masih hidup di rumah ini, bergantung pada mereka, masih suka menolak permintaan mereka, tidak setuju dengan pendapat2 mereka, dan membuat mereka khawatir setiap hari.
Bila nantinya Allah menjadikan kami orang2 yang berhasil, itu semua karena perjuangan dan doa mereka. Namun bila kami memberikan semua harta yang kami dapat untuk mereka, membuatkan mereka rumah yang sangat besar, mengajak mereka mengelilingi dunia, menghujani mereka dengan hadiah...itu semua tidak akan pernah sebanding dengan keringat dan air mata yang sudah mereka curahkan untuk kami selama 30 tahun ini.
Karenanya, hari ini, tidak ada yang pantas kami ucapkan selain maafkan kami dan terima kasih. Maafkan kami karena kekurangan kami begitu banyak dan kami masih amat jauh dari membahagiakan papi dan mami...Terima kasih kami sedalam2nya dan setulus2nya karena telah mencintai, menyayangi kami apa adanya dengan segala kekurangan kami...Terima kasih atas setiap perhatian, keringat, air mata, dan doa yang sudah diberikan selama 10.950 hari, 262.800 jam, 15.768.000 menit, dan 946.080.000 detik. Selamat ulang tahun pernikahan ke-30 mami papi. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk papi dan mami. We love you so much...now, tomorrow, always...
Dibuat untuk syukuran ultah tahun pernijahan ke-30 mami dan papi, 18 Mei 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
